Berita

Kisah Sukses Adies Kadir di Dunia Politik dan Usaha

Oleh Syamsul Bachtiar pada hari Selasa, 28 Mar 2017 - 07:03:36 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

83adies.jpg

Adies Kadir. (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya mungkin itulah satu pepatah yang layak disematkan pada seorang politisi muda Golkar Adies Kadir.

Adies Kadir yang saat ini merupakan wakil rakyat dari dapil Jatim I itu memulai karir atau berkiprah didunia politik tak terlepas dari pengaruh sang ayah yang merupakan salah satu pejabat dunia peradilan pada masa orde baru berkuasa.

Bagi Adies Kadir, dunia politik bukanlah sesuatu yang asing bagi dirinya. Sedari kecil, Adies bertutur, dirinya sarat akan tempaan dunia politik dari sang ayah.

Meski lahir dan besar dari kalangan keluarga yang bisa dibilang berkecukupan, namun kondisi tersebut tak lantas membuat seorang Adies Kadir menjadi pribadi yang manja layaknya anak-anak yang berasal dari keluarga berkecukupan.

Setelah lulus SMA, ia menjatuhkan pilihan pada jurusan teknik sipil di Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya, Jawa Timur. Selepas dari bangku kuliah itu. Tepatnya di tahun 1992, dirinya bekerja sebagai site engineer di PT Lamicitra.

"Gaji saya hanya Rp 150 ribu saat itu. Tapi alhamdulillah saya tidak pernah mengeluh ataupun meminta pada orang tua. Saya jalanin dengan keikhlasan," terang Adies pada TeropongSenayan di Jakarta, Senin (27/03/2017).

Lebih lanjut Adies berkisah, dirinya dipercaya menjadi site manager proyek Jembatan Merah Plaza (JMP), hingga dengan menjadi project manager.

Tepatnya tahun 1996, Adies pindah ke PT Surya Inti Permata. Dia dipercaya menjadi kepala cabang Batam yang bertugas mengerjakan hanggar Bandara Hang Nadim, Batam, kini Kepulauan Riau (Kepri).

Namun demikian, kata dia, di tahun 1999, dirinya memutuskan untuk balik ke Surabaya.

Saat balik ke Surabaya, kenang dia, dirinya hanya berbekal tabungan dari gaji saat bekerja di PT Surya Inti Permata.

Dengan bekal yang ada, kata dia, dirinya memutuskan untuk membuka sebuah perusahaan sendiri yakni PT Trisakti dan CV Delavici.

Meski menjadi seorang pengusaha, kata dia, dirinya tetap bersemangat untuk terus menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Hal itu terbukti kala dia memutuskan untuk menempuh strata satu (S-1) di fakultas hukum Universitas Merdeka Surabaya di tahun 2003.

Kemudian ia melanjutkan di Magister Hukum pascasarjana Universitas Merdeka Malang hingga 2007.

Menurutnya, naluri politik turun dari sang ayah, Abdul Kadir Mappong yang pernah menjabat ketua Pengadilan Negeri (PN) Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng).

"Di era orde baru, para PNS (pekerja negeri sipil) kan juga disuruh kampanye untuk Golkar. Dari situ, saya sering diajak kampanye sama bapak. Ya dari situ saya melihat proses politik itu," ungkapnya.

Bukan tanpa tantangan ketika terjun ke dunia politik. Adies mengaku pernah dianggap anak bawang dan di ragukan.

Adies memulai karir politiknya sebagai sekretaris PK (pengurus kecamatan) Golkar Dukuh Pakis, Kota Surabaya, Jawa Timur. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar) Kota Surabaya.

"Saya meniti karir politik benar-benar dari bawah. Bahkan saya dianggap anak bawang dan tidak diperhitungkan. Tapi itu semua jadi cambuk bagi saya untuk membuktikan bahwa saya mampu bersaing," ujar dia.

Karena kepiawaian dalam memimpin dalam berpolitik mengantarkannya sebagai ketua DPD Partai Golkar Surabaya pada tahun 2009. Di sini semua bermula yang membuatnya melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI.

Adies menikah dengan Lita Anastasia, S.Ked dikaruniai dua buah hati, yakni Adela Kanasya Adies dan Adiel Muhammad Kanantha. Di tengah kesibukannya, dirinya mengatur waktu bersama anak dan istrinya. Dari situ, istri dan putra-putrinya sangat mendukung kegiatan Adies di dunia politik.

"Bagi saya, keluarga merupakan inspirasi dan motivasi saya dalam melakukan aktivitas di luar sana. Keluarga tempat kita kembali," ujar pria kelahiran Balikpapan 17 Oktober 1968 itu.

Seperti diketahui pada pileg 2014 lalu, dapil Jatim I disebut sebagai daerah pemilihan “neraka”. Bila ditarik ke konteks klub sepak bola, maka dapil Jatim I ini disebut grup neraka. Pasalnya, di dapil ini politisi senior nan berpengalaman, juga incumbent bertarung di sini. Seperti Priyo Budi Santoso salah satunya.

Keberhasilan mantan Ketua DPD II Partai Golkar Kota Surabaya, Adies Kadir ini dalam mendapatkan satu kursi DPR RI periode 2014 – 2015 tidak semudah membalik telapak tangan.

"Saat itu, kita sadar bahwa perjuangan menuju ke DPR RI tidak mudah, cukup menantang. Orang menyebutnya berat. Alasan itu, sejak satu tahun menjelang pencoblosan terus melakukan sosialisasi ke konstituen, masyarakat," tutur dia.

Ia mengisahkan, dalam menjalankan strategi sosialisasinya, ia melakukannya selama 24 jam non stop. Selama bekerja, dirinya dan timnya tidak peduli dini hari atau tengah malam meninggalkan rumah untuk sekedar minum kopi sambil ngobrol di warung-warung berkumpul bersama warga masyarakat. Kegiatan itu terus dilakukan dengan senang dan penuh hati.

Kegiatan menyapa warga tiap harinya selalu dilakukan dalam tujuh hari berturut-turut, layaknya mesin kendaraan tanpa henti terus tancap gas. Pada hari biasa, setidaknya lima kali kunjungan ke berbagai kegiatan bersama warga.

Khusus Sabtu-Minggu, kata dia, kegiatan menyapa warga pun dilakukan 15 hingga 20 lokasi.

Kegiatan menyapa warga, seolah tidak mau ditinggalkan. Seolah ada slogan, tidak ada hari tanpa kegiatan bersilaturahmi dengan warga. Mulai kegiatan pengajian, hajatan sunatan, hajatan pernikahan, rapat RT atau RW, selamatan syukuran bersih desa, hingga kegiatan PKK semua ia jabani.

"Pokoknya waktu itu, kegiatan warga apapun selama saya ada waktu baik itu di Sidoarjo atau Surabaya, ayo kita jalan menyapa warga. Maka jurus pokoknya mampir silaturahim pasti saya lakukan. Alhamdulillah, kehadiran saya waktu itu mendapat respon positif dari warga Sidoarjo dan Surabaya," kata dia.

Menurut Adies, jurus ini diakui cukup ampuh mengambil mengambil hati masyarakat sehingga memberikan pilihan kepadanya di TPS. Kini dirinya tinggal merealisasikan janjinya dan konsisten berjuang untuk menyerap dan merealisasikan aspirasi masyarakat. Apalagi saat ini, dirinya masih kerap bertatap muka dengan warga. Malah akunya, hal ini menjadi hobi baru sehingga cara ini membuat warga tidak mudah melupakanya.

Adies Kadir sebagai politisi yang memulai karirnya dari DPRD Surabaya 2009-2014 ini merendah atas kemampuannya mengambil hati rakyat. Ia mengatakan, dirinya lolos ke DPR karena murni dukungan rakyat Sidoarjo-Surabaya. Alasan tidak lolosnya sejumlah caleg incumbent bukan karena figurnya yang tidak mumpuni. Namun Dapil Jatim I memang sangat sulit bagi parpol atau caleg yang tidak memiliki basis masa yang kuat.

"Bila dilihat dari pemilu (pileg) persaingan di Dapil ini sangat ketat. Jadi wajar bila ada beberapa caleg incumbent yang tidak lolos," kata Adies yang pernah dipercaya menjadi calon wakil walikota Surabaya pada Pilwalkot 2010 berpasangan dengan Arif Afandi yang didukung Demokrat dan Golkar meskipun kalah oleh Tri Rismaharini.

Berkat kemampuan dan pengalaman di bidang politik itu, namanya cepat melejit di kancah perpolitikan nasional. Adies dipercaya oleh fraksinya duduk di Komisi III DPR RI yang membidangi permasalahan hukum. Selama di komisi hukum itu, banyak hal yang sudah dilakukan oleh politis berdarah bugis Pinrang, Sulawesi Selatan ini.

Pendidikan

1975-1981, Sd Negeri Selat Vii, Kapuas Kalimantan Tengah
1981-1984, Smp N 1 Kotamadya Samarinda, Kalimantan Timur
1984-1987, Sma N 3 Kupang, Nusa Tenggara Timur
1987-1993, S1, Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya
1987-1993, S1, Universitas Merdeka, Surabaya
2006-2007, S2, Universitas Merdeka Malang, Jawa Timur

Pengalaman Politik

Sekretaris PK (pengurus kecamatan) Golkar Dukuh Pakis, Surabaya, Jawa Timur
Anggota FGolkar DPRD Surabaya 2009-2014
Ketua DPD Golkar Surabaya
Calon wakil walikota Surabaya pada Pilwalkot 2010 berpasangan dengan Arif Afandi (didukung Demokrat & Golkar)
Ketua DPC MKGR Surabaya (underbouw Golkar).

tag: #profil-wakil-rakyat  

Bagikan Berita ini :