Opini
Oleh Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi Hukum DPR dan Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU) pada hari Kamis, 25 Mei 2017 - 08:25:19 WIB
Bagikan Berita ini :

Jakarta Connection : Gubernur Narkoba!

71IMG-20170503-WA0000.jpg
Kolom bersama Djoko Edhi S Abdurrahman (Sumber foto : Ilustrasi oleh Kuat Santoso )

Jenderal Buwas mengatakan, "Itu ada bukti keterlibatan dia Ahok". Jadi, Buwas bicara bukti Jakarta Connection di BNN. Itu satu.

Kedua, Jenderal Buwas berkata, "Ahok ikut mendukung peredaran Narkoba". Cukup jelas.

Ketiga, Pemprov DKI Jakarta terlibat peredaran narkoba yang saya sebut Jakarta Connection of Drugs.

Keempat, perintah untuk memberantas narkoba dari Presiden Jokowi tak dijalankan oleh Ahok.

Dari empat itu, dapat disimpulkan ada kebijakan pemerintah untuk mengedarkan narkoba di kepemimpinan Ahok. Itu subtansi.

Pantas barang tak kunjung berkurang di pasar, malah kian banyak. Bandar dan victim terus ditangkapi, Cepu (mata-mata) kian banyak, Restik kian paradok, tapi barang bertambah secara signifikan. Ada apa ini?

Presiden Jokowi mengemukakan bahwa jumlah narkoba tidak berkurang, belum lama.

Mengapa tak meninjau kebijakan pemberantasan narkoba? Karena Ahok gubernurnya, sekaligus Gubernur Narkoba. Olala.

Itu repotnya berkakaen. Standar normal berubah abnormal, lalu mencari kambing hitam. Andai Ahok tak ditumbangkan oleh Habib Rizieq, peredaran narkoba tak diketahui jaringan mafiosonya.

Kiat awal jelas keliru berat. Buktinya eksekusi hukuman mati terpidana mati narkoba tak diteruskan. Cuma 7 orang, jika tak salah. Padahal kata Jaksa Agung, ia masih punya stock 67 orang lagi untuk dieksekusi mati tahun 2015.

Lenyap beritanya, Jaksa Agung tak kunjung bicara eksekusi hukuman mati narkoba sejak dikecam oleh Australia dan Swedia karena melanggar Konvensi PBB tentang Hak-Hak Sipil dan Politik. Takutnya kepada Asing Aseng sih.

Ubah saja filsafatnya jika berani. Jangan lagi "Say no to drugs" (Katakan tidak kepada Narkoba). Tapi "Say war to drugs" (Katakan perang kepada Narkoba).

Berani? Filsafat yang kini dipakai oleh BNN adalah say no to drugs. Filsafat ini sasarannya adalah victim (korban). Pertama kali diucapkan oleh Nyonya Rodham Clinton, cocok untuk anak sekolahan, santri, dan abege. Tapi tak cocok untuk junkies (penyandu), kurir, bandar, apalagi jaringan Jakarta Connection.

Say war to drugs digunakan oleh negara yang sudah menyatakan diri darurat narkoba. Seperti di Palerno dan Mexico. Sasaran filsafat ini adalah jaringan.

Tahun 2015 Mexico memecat dan memenjarakan 1.800 polisi yang terlibat gang narkoba, termasuk birokrat dan politisi. Filsafat itu juga diikuti Dutertee, Presiden Philipina. Indonesia kapan?(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
IDUL ADHA 2026 M LOKOT N
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Cara Oligarki Merampok Negara: Menelisik Dugaan Kebocoran di Industri Kelapa Sawit

Oleh Muhammad Said Didu
pada hari Senin, 11 Mei 2026
Industri kelapa sawit selama ini dikenal sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Indonesia bahkan merupakan produsen minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia. ...
Opini

Sambutan Sudirman Said, disampaikan dalam kegiatan Traveling Palang Merah Remaja di Aceh.

Tema “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” bukan hanya relevan dengan nilai-nilai Palang Merah Indonesia, tetapi juga menjadi refleksi penting bagi generasi muda tentang arti pengabdian, ...