Opini
Oleh Ziyad Falahi pada hari Selasa, 26 Des 2017 - 19:14:57 WIB
Bagikan Berita ini :

Jokowi dan Orkestra Digital

43IMG_20171226_191129.jpg
Ziyad Falahi (Sumber foto : Istimewa )

Dalam era informasi, kronos (dewa waktu) terperangkap dalam sebuah microchips. Akibatnya, manusia memasuki sebuah era matinya kontemplasi karena tergerus oleh hiperakselerasi virtualitas. Sehingga dalam durasi kecepatan tempo tinggi, maka yang menjadi subyek adalah kecepatan itu sendiri.

Digambarkan Paul Virillo dalam buku Speed & Politics (1986), bagaimana politisi layaknya berlari diatas treadmill yang diset secara otomatis. Sebagai contoh, irama pemerintahan Jokowi yang keruh oleh lalu lintas isu radikalisme. Di saat ekspektasi menguatnya Pancasila, masyarakat justru sedang berada dalam titik kejenuhan akibat overdosis NKRI harga mati.

Miskalkulasi terhadap "changing mood" masyarakat menciptakan instabilitas frekuensi orkestra digital Jokowi. Melimpahnya sokongan finansial yang digunakan cyber slave ternyata gagal memprediksi bahwa publik sudah bosan dengan Islamophobia. Tatkala mengasong isu teroris kurang menyeramkan, perselingkuhan tidak meyakinkan, LGBT juga tidak laku, lalu apalagi?

Di saat para penjaja pluralisme dipusingkan oleh roller coaster digital, tegangan tinggi Kawasan Timur Tengah semakin menjadi. Jerussalem kini menjadi momen yang notabene sangat sexy untuk provokasi, akhirnya hanya menjadi fantasmagoria semata. Sekali lagi, para penjilat harus menelan pil pahit.

Harusnya Jokowi mengakui, bukan politisi yang mengatur informasi tapi informasi yang mengatur politisi. Dalam buku Creative Evolution (1911), Henry Bergsson mengkorelasikan fluktuasi pemberitaan dengan bioritmik kesadaran manusia. Jika orkestra digital yang telah basi ini tidak segera diakhiri, maka Jokowi akan segera terjangkit epilepsi.(dia)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Menjaga Hutan, Merawat Kehidupan: Dari Kesepakatan Desa hingga Menjual “Angin”

Oleh Swary Utami Dewi (TP3PS Tim Penggerak Percepatan Pengelolaan Perhutanan Sosial)
pada hari Selasa, 29 Sep 2026
Terik matahari siang itu cukup menyengat. Namun, panas hari tidak menyurutkan antusiasme masyarakat Desa  Lubuk Beringin dan beberapa desa sekitarnya di Kabupaten Bungo, Jambi, untuk datang ...
Opini

DI BALIK JERUJI: KETIKA UANG, KEKUASAAN DAN GAYA HIDUP BERTEMU DI LAPAS

Ada persoalan yang selama bertahun-tahun menjadi pembicaraan masyarakat mengenai lembaga pemasyarakatan: benarkah di balik tembok lapas terdapat perlakuan berbeda bagi warga binaan yang memiliki uang ...