Opini

Pentingnya Penilaian Autentik

Oleh Rina Indriani, S.Pd., M.Pd. (Dosen PGSD FKIP Universitas Pasundan, Mahasiswa S3 Pendidikan Dasar UPI) pada hari Selasa, 22 Jan 2019 - 11:18:00 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

99siswa-sd-dayeuhkolot-07-belajar-di-rumah-warga_20161005_201737.jpg.jpg

Ikustrasi (Sumber foto : ist)

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting untuk meningkatkan taraf hidup suatu peradaban yang lebih baik di masa yang akan datang. Melalui pendidikan akan dihasilkan sumber daya manusia yang handal dalam mengelola kekayaan alam, apalagi di Indonesia ini yang sangat kaya. Pendidikan juga berperan dalam mengubah masyarakat dari dari sesuatu yang kurang baik menjadi yang lebih baik. 

Oleh karena itu, untuk dapat meningkatkan kualitas suatu bangsa maka harus meningkatkan kualitas pendidikannya. 
Kualitas pendidikan dapat terlihat dari pencapaian kompetensi lulusan suatu lembaga pendidikan, karena akan terlihat kompetensi sumber daya manusia yang dihasilkan dari proses pendidikan yang dilakukan. Untuk dapat melihat pencapaian kompetensi tersebut, maka diperlukan proses penilaian yang sesuai dapat menggambarkan pencapaian tersebut.Penilaian merupakan hal yang utama untuk mengetahui kemampuan atau kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik, yang dapat menggambarkan pula keberhasilan suatu proses pembelajaran yang dilakukan. Sehingga, penilaian yang dilakukan harus menyeluruh, dari mulai awal, proses, dan akhir pembelajaran.

Pembelajaran pada dasarnya merupakan proses perubahan pada peserta didik dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa mengjadi bisa dan bisa diukur hasilnya. Untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran tersebut, maka dilakukanlah penilaian sebagai cerminan dalam menggambarkan kemampuan atau kompetensi peserta didik yang diperlukan oleh pendidik, peserta didik, dan orang tua untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa penilaian merupakan salah satu unsur penting dalam 
meningkan kualitas pendidikan. 

Dengan diterapkannya Kurikulum 2013 pada sistem pendidikan di Indonesia, membuat 
berbagai macam aspek pendidikan yang ada di dalamnya harus ikut diperbaharui. Salah satunya standar penilaian. Kurikulum 2013 mempertegas adanya pergeseran dalam melakukan penilaian yakni dari penilaian yang mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja melalui tes, 
menuju penilaian yang mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil atau yang disebut penilaian autentik, sehingga penilaian dilakukan dari sebelum pembelajaran, selama pembelajaran, dan setelah pembelajaran. 

Hasil dari penilaian tersebut dapat menggambarkan kemampuan yang dimiliki peserta didik dalam penguasaan 
kompetensinya.Penilaian autentik adalah kegiatan untuk mengetahui pengetahuan dan atau keterampilan peserta didik melalui pertanyaan pada level berpikir aplikasi atau lebih tinggi yang menuntut jawaban secara tertulis atau lisan yang dimulai pada sebelum pelaksanaan pembelajaran sampai 
setelah pembelajaran. 

Penilaian autentik dilaksanakan secara kontinu dalam kontek lingkungan 
belajar atau dunia nyata yang bermakna, sehingga merefleksikan pengalaman belajar 
sesungguhnya. Informasi ini diperoleh melalui portofolio, observasi, eksprimen, dan jurnal 
selama pembelajaranyang dapat memberikan gambaran kemampuan peserta didik yang 
sebenarnya. Peserta didik dituntut untuk mempraktekan hasil pembelajaran dalam lingkungan hidupnya, sehingga pembelajarannya pun disesuaiakan dengan lingkungan hidup peserta didik. 

Bentuk penilaian ini dapat digunakan pada proses pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan tuntutan penggunaan sistem penilaian terpadu pada kurikulum 2013.
Tingkat berpikir yang digunakan pada penilaian autentik berada pada level tinggi yang disesuaikan dengan lingkungan sekitar peserta didik, sehingga mereka lebih memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Dari penilaian autentik ini, dapat diketahui gambarankemampuan 
yang dimiliki oleh peserta didik yang sebenarnya Selain itu, peserta didik juga belajar bagaimana menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya serta menghargai proses belajar dan hasilnya sebagai suatu produk dari proses pembelajaran yang dilakukan.

Beberapa contoh objek penilaian autentik diantaranya adalah melakukan percobaan dalam bidang sains, melakukan pengamatan dalam bidang sosial, menulis cerita, membaca bacaan dan menafsirkannya, pemecahan masalah matematika atau sains yang sesuai dengan lingkungan atau pengalaman peserta didik. Peserta didik dituntut untuk tidak hanya menghapal rumus atau konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Penilaian autentik mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik agar mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam kehidupan sehari-hari.Pada penilaian autentik, guru tidak hanya menilai kognitif peserta didik saja, tetapi juga 
afektif dan psikomotornya. Peserta didik perlu belajar bagaimana menyajikan tugas yang 
diberikan oleh guru menjadi lebih bermakna, sehingga diperlukan pendampingan yang baik dari guru. 

Permasalahan yang diberikan berupa permasalahan open endeed, dimana solusi dari permasalahan yang diberikan tidak hanya satu, tetapi memungkinkan berbagai jawaban dari peserta didik seghingga akan diperoleh informasi originalitas jawaban peserta didik. Sehingga, kemampuan berpikir peserta didik akan berkembang. Sedangkan pada penilaian kinerja, peserta didik dituntut menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada kehidupan nyata. 

Peserta didik mengalami sendiri proses pembelajaran secara menyenangkan, karena 
mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya.Dalam mengimplementasikan penilaian autentik yang baik dapat dimulai dengan mengidentifikasi standar kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik yang diambil dari standar isi kurikulum yang digunakan. Standar tersebut akan menjadi acuan dalam melaksanakan pembelajaran dan dalam melakukan penilaian. Sehingga hasil penilaian autentikdapat menggambarkan kualitas pendidikan berdasarkan proses pembelajaran yang dilakukan. (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pendidikan  

Bagikan Berita ini :