Nadiem, Mundurlah (III)

Oleh Djoko Edhi S Abdurrahman (Anggota Komisi Hukum DPR periode 2004 - 2009, Advokat, Wasek Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama-PBNU). pada hari Rabu, 13 Nov 2019 - 19:14:13 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1573647253.jpg

Djoko Edhi S Abdurrahman (Anggota Komisi Hukum DPR periode 2004 - 2009, Advokat, Wasek Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama-PBNU). (Sumber foto : istimewa)

Setelah Dikdasmen dirusak (Nadiem, Mundurlah II), menyusul Perguruan Tinggi yang dikerjai. Maklum, yang beri order adalah orang tuli (Doubt) yang diperintah adalah orang buta (Blind) seperti dramaturgi "The Blind & The Doubt" nya Bertold Brecht. Istilah Surya Paloh: picisan. Istilah Amien Rais: recehan.

Saya suka stigma Amien Rais dan Paloh itu, sebab Jokowi jurusan perkayuan, memang NEM terendah di sekolah teknik, tapi lima kali absen ke PBB karena tak bisa bahasa Inggris -- bikin malu UGM dan Bangsa Indonesia di fora internasional.

Penulis buku "Jokowi Undercover" Bambang Tri membeberkan ijazah palsu Jokowi, memenuhi FB saya. Klop. Saya yakin tuduhan Bambang Tri itu benar. 

Kembali ke Nadiem, bos tukang ojek itu jadi bosnya dikdasmenti berkat Jokowi. Sudah pesong yang pasang dia di situ. Nadiem yang cuma S1, pengalaman tak punya, jadi bosnya para profesor canggih. (S2 nya Nadiem tak diakui di Indonesia. MBA. Ijazah tak diakui saja, bisa jadi Mendikbud).

Saya mengutip tulisan Anang Zaini Gani berjudul "2+2=5". Anang beri judul angka itu untuk menggambarkan kekuasaan Nadiem sebagai Mendikbud di ajang pemilihan rektor ITB yang koruptif. Nadiem menentukan Rektor ITB, disebut Joni Hermana: Go-Pilrek. Idiom-idiom itu merujuk fenomena bahlul sejak Nadiem jadi Mendikbud.

Go-Pilrek mengumumkan bahwa Rektor ITB  2020-2025 terpilih ialah  Prof. Reini D Wirahadikusumah Ph.D (RDW). "Keputusan aneh dari otonomi kampus yang mampus. Itu curang," komen Dr. Syahganda  Nainggolan, alumni T. Geodesi & Geomatika - ITB dan S2-Studi Pembangunan ITB. Di bawah tajuk "Rektor Baru ITB, Isu Radikalisme dan Matinya Otonomi Kampus", Syahganda mengecam keras Nadiem.

Berbagai tanggapan  mengenai keputusan itu karena paradok dengan data Go-Pilrek itu sendiri. Menurut Anang, data yang disampaikan, sbb:

A. Jumat pagi (1/11/2019), Senat Akademik ITB telah memilih 6 (enam) calon rektor dengan pemungutan suara. Hasil terpampang adalah: KS: 45, JS: 25, DL: 18, ETB: 16, BS: 16, RDW: 16.

B. Jumat siang (1/11/2019), Senat Akademik ITB telah memilih 3 (tiga) calon dengan pemungutan suara kedua, dengan hasil: KS: 28, JS: 10, RDW: 10.

C. Sabtu (2/11/2019), MWA menyelenggarakan sosialisasi ketiga calon rektor tadi, debat terbuka, sekaligus menjaring suara via popular vote, dengan hasil: KS: 358, JS: 150, dan RDW: 81.

Hasil tiga proses, nilai masing-masing kandidat, KS nomor 1, pemenang, dengan skor 358. Sedang RDW nomor 3 (Runner up II)  dengan skor 81, tapi ia bisa jadi juara. Korup, ajaib, Tipsani.

Fenomena menarik, yang kalah jadi pemenang. "Hasil analisis Data Science ternyata tak pas. Tapi kondisi ini  bisa diterangkan dengan Youtube", tulis Anang, beranalogi.

Guru menanyakan kepada muridnya : "Berapa 2 apel + 2 apel?"

Murid menjawab "5 apel". Guru heran. Guru mengulang pertanyaannya.
Jawaban murid masih sama: "5 apel".  

Guru bertanya lagi kepada murid itu. "Berapa 2 jeruk + 2 jeruk?". Murid menjawab lantang "4 jeruk". 

Wauw. Ada yang tidak betul. Mengapa soal apel =5, sedang jeruk =4. Penasaran, ia ulangi lagi pertanyaan: "2 apel + 2 apel berapa?" Jawaban murid tetap "5=apel".

Guru bingung. Kalau jeruk =4. Maka guru bertanya: "Mengapa kalau jeruk =4. Tapi apel =5?".

Murid itu dengan tenang   menyahut sambil mengeluarkan 1 apel dari kantong Nadiem, dan berkata bahwa di kantong Nadiem ada  1 apel, maka hasilnya 5 apel. "Betulkan?"

Mendikbud Nadiem menyembunyikan 1 apel di kantongnya, berharga 35% suara, sehingga hasil matematika pemilihan Rektor ITB, bukan KS. "Ini namanya matematika politik", kata Anang.  

Betul Anang. Itu korup, politik korup, cara maling sapi, kata orang Madura, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar! Jika pun ditambah 35%, tetap Reini kalah. Apalagi jika diejawantahkan frasa kata "bebas" dan "merdeka" dari mulut si Nadiem, penipu orang itu. Bahasa Maduranya "ge-o-ge colokna". 

Rapat MWA nya, malah di kantor Nadiem. Rusak berat ITB kena Nadiem. Ia Demokrasi Terpimpin dari MacKenzie. "Demokrasi Terpimpin", kata Reza Fadilah. Sebulan jadi Mendikbud, tak satupun yang baik dari Nadiem. 

Ia jadi iblis, penghancur apa saja yang baik. Kurikulum Dikdasmen diacak-acak, salah berat pula. Dikti dimanipulasi. Monster ini harus dihentikan. Mundurlah, Nadiem! Kau tak tahu apa-apa, maksa. Ilmunya tak punya, pengalamannya juga tak punya. Itu bukan rumahmu. Bukan domainmu. Kok maksa. Gak malu ya? 

Sepekan ini, semua penulis menghujat kau. Common enemies. Tak ada satu pun yang puji kau. Tahu sebabnya? Casting ente dan Jokowi: The Blind & The Doubt, kerjasama si Buta dan si Bisu. Kau tak mengerti apa-apa Bro. Jokowi apalagi. Ibarat DO (Driver Ojol) yang tak bisa menjalankan mesin motor. Tapi sok bisa berojol. 

Kalau cara ini dilanjutkan, bukan hidup kita saja yang termanipulasi, matematika anak di sekolah pun anomali apel. Lahh, wasit ikut main Bro. Hendaknya Prof Reini itu jangan menduduki kursi yang bukan ia punya. Itu kursi orang lain, mau dikuasai dengan cara-cara curang. Kecurangan seperti itu akan berbuntut panjang, menerbitkan perkubuan karena manipulasi.

Tak ada bedanya dengan pilpres lalu, angka-angka itu dimanipulasi, bahkan ketika Jokowi dilantik, tidak memenuhi Pasal 6A Ayat 3 UUD 1945. 

Jokowi kalah di Sumbar dan di Aceh, di bawah 20%, berakibat tak terpenuhinya Pasal 6A Ayat 3 UUD 1945 itu. 

Tak bisa pasal ini ditafsirkan, karena dikunci oleh Pasal 31 UUD 1945: hanya bisa diubah oleh MPR.  Tapi bisa ditabrak, dimanipulasi. Karena melanggar UUD, maka Mahkamah Agung tak bersedia menyumpah, tapi toh Jokowi bisa baca sumpah sendiri. Itu menabrak HTN dan konvensi. 

Tapi tak bisa digugat, karena yang pegang legal standingnya adalah Prabowo Subianto, yang berkhianat, menyeberang ke Jokowi. Coba Prabowo tak berulah, Jokowi takkan bisa sekadar tegak, apalagi berkibar.

Sebelumnya, rektor termuda di Malang, konon lulusan Harvard Scholl, sama dengan Nadiem, MBA dari Harvard School. Tapi yang hebat adalah Harvardnya, bukan Harvard Schooll-nya. Terkenal di Indonesia karena peran Rockefeller dalam penanaman modal asing di Indonesia pada 1967 yang membagi-bagi sumber daya alam (SDA) ke sejumlah kapitalis papan atas dunia menggunakan peran Mafia Berkeley (terbentuk di FEUI 1957), adalah alumnus Universitas Berkeley, AS. Rockefeller memulai liberalisme di Indonesia bersama UU PMA 1967.

Rockefeller, raja tangker itu memiliki yayasan Rockefeller Foundation, yang membeli Harvard University. Harvard mengkhususkan diri pada masalah sosial di negara ketiga, termasuk Indonesia, sehingga terkenal sebagai Universitas Kemiskinan. Mubiyarto mencontoh Harvard, mengubah UGM jadi universitas kemiskinan, tapi Mubiyarto kalah voting ketika amandemen Pasal 33 UUD dengan skore 4 : 5 yang mengantarkan Indonesia menjadi negara neolib (ultra liberalisme) sehingga ultra kapitalis seperti Nadiem bisa berjaya.

Repelita adalah konsep yang dibeli Indonesia dari Rockefeller Foundation yang memicu perkembangan madzhab ekonomi developmentalis ala Keynesian hingga 1983. Di bidang ilmu komputer, Harvard bukan aktor. Namanya jarang disebut. Memang dari Harvard muncul Bill Gates, tapi hanya sampai mahasiswa tingkat 2. Ia justru dibesarkan oleh perusahaan komputer, Apel, ngetop ketika ia bikin OS Microsoft, open sources, berdasar pengalaman kerjanya di Apel. Bukan dari Harvard.(*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #  

Bagikan Berita ini :