Oleh Rihad pada hari Sunday, 07 Jun 2020 - 11:59:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Klaster Keluarga Terbukti Berbahaya, Pemkot Malang Hindari Isolasi Mandiri

tscom_news_photo_1591504115.jpg
Walikota Malang, Sutiaji (Sumber foto : ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Klaster penularan virus Corona tak hanya di tempat umum, tapi juga terjadi di keluarga. Terbukti, klaster keuarga ternyata juga menjadi tempat penularan virus yang berbahaya. Bahkan isolasi mandiri dipandang tidak efektif. Itulah sebabnya Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur akhirnya melarang warga menjalani isolasi mandiri jika rumahnya tidak layak.

Walikota Malang, Sutiaji mengatakan salah satunya berasal dari lingkungan keluarga. "Sehingga keluarga bukan lagi tempat aman untuk melakukan isolasi bagi pasien positif Covid-19," katanya.

Sutiaji mengatakan, selama masa transisi menuju tatanan baru (new normal) jumlah pasien meningkat menjadi 64 orang. Mereka rata-rata tertular dari anggota keluarga yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19.

Walikota menjelaskan penularan di lingkungan terjadi lantaran protokol isolasi mandiri di rumah tidak berjalan dengan baik. "Dengan kejadian klaster keluarga kita putuskan isolasi mandiri tidak kita perbolehkan. Rumah sakit kita akan siapkan. Harapannya kita akan isolasi di RSUD Kedungkandang," kata Walikota, Sabtu (6/6).

Namun, Walikota Kota Sutiaji masih mengizinkan warga melakukan isolasi mandiri di rumah asal memenuhi beberapa syarat dari Satgas Covid-19 Pemkot Malang. Di antaranya, kamar mandi sendiri, kamar tidur sendiri, dan menetapkan physical distancing.

Bila beberapa itu syarat terpenuhi, lanjut Walikota, tim Satgas Covid-19 masih akan memberikan penilaian kelayakan rumah dijadikan tempat isolasi mandiri. Dengan demikian isolasi mandiri bisa dilakukan dengan persyaratan sangat ketat. "Dan secara psikologi dari tenaga medis meyakini dia bisa menjalani isolasi mandiri," ujar Sutiaji.

Sementara data Covid-19 di Kota Malang per Jumat (5/6) tercatat orang dengan risiko (ODR) 2.186 orang, orang tanpa gejala (OTG) 472 orang, orang dalam pemantauan (ODP) 921 orang, serta pasien dengan pengawasan (PDP) tercatat 260 orang.

Jumlah PDP meninggal dunia 19 orang. Pasien positif Covid-19 tercatat 64 pasien positif, dimana 37 dalam perawatan, sembuh 24 pasien dan meninggal 3 pasien.

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Klaster penularan virus Corona tak hanya di tempat umum, tapi juga terjadi di keluarga. Terbukti, klaster keuarga ternyata juga menjadi tempat penularan virus yang berbahaya. Bahkan isolasi mandiri dipandang tidak efektif. Itulah sebabnya Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur akhirnya melarang warga menjalani isolasi mandiri jika rumahnya tidak layak.

Walikota Malang, Sutiaji mengatakan salah satunya berasal dari lingkungan keluarga. "Sehingga keluarga bukan lagi tempat aman untuk melakukan isolasi bagi pasien positif Covid-19," katanya.

Sutiaji mengatakan, selama masa transisi menuju tatanan baru (new normal) jumlah pasien meningkat menjadi 64 orang. Mereka rata-rata tertular dari anggota keluarga yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19.

Walikota menjelaskan penularan di lingkungan terjadi lantaran protokol isolasi mandiri di rumah tidak berjalan dengan baik. "Dengan kejadian klaster keluarga kita putuskan isolasi mandiri tidak kita perbolehkan. Rumah sakit kita akan siapkan. Harapannya kita akan isolasi di RSUD Kedungkandang," kata Walikota, Sabtu (6/6).

Namun, Walikota Kota Sutiaji masih mengizinkan warga melakukan isolasi mandiri di rumah asal memenuhi beberapa syarat dari Satgas Covid-19 Pemkot Malang. Di antaranya, kamar mandi sendiri, kamar tidur sendiri, dan menetapkan physical distancing.

Bila beberapa itu syarat terpenuhi, lanjut Walikota, tim Satgas Covid-19 masih akan memberikan penilaian kelayakan rumah dijadikan tempat isolasi mandiri. Dengan demikian isolasi mandiri bisa dilakukan dengan persyaratan sangat ketat. "Dan secara psikologi dari tenaga medis meyakini dia bisa menjalani isolasi mandiri," ujar Sutiaji.

Sementara data Covid-19 di Kota Malang per Jumat (5/6) tercatat orang dengan risiko (ODR) 2.186 orang, orang tanpa gejala (OTG) 472 orang, orang dalam pemantauan (ODP) 921 orang, serta pasien dengan pengawasan (PDP) tercatat 260 orang.

Jumlah PDP meninggal dunia 19 orang. Pasien positif Covid-19 tercatat 64 pasien positif, dimana 37 dalam perawatan, sembuh 24 pasien dan meninggal 3 pasien.

tag: #psbb  #corona  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PEMPEK GOLDY
advertisement
KURBAN TS -DD 2025
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement