Oleh Prof Sudarsono Guru Besar FISIP UI pada hari Senin, 03 Jun 2024 - 18:51:08 WIB
Bagikan Berita ini :

Stabilisasi Pasar Pangan

tscom_news_photo_1717415468.jpg
Prof Sudarsono Guru Besar FISIP UI (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Stabilisasi pasar pangan, umumnya dimaknai sebagai stabilisasi pasokan, dan stabilisasi harga. Inilah tolok ukur stabilitas ekonomi politik pangan.

Pertama, bertambahnya penduduk saja, ceteris paribus, menjadi faktor destabilitas pasar pangan. Padahal, pertumbuhan positif populasi, saat ini masih sesuatu keniscayaan.

Kedua, naiknya konsumsi per kapita pangan tertentu, juga menjadi faktor destabilitas pasar. Pergeseran konsumsi sagu ke beras, atau dari jagung dan ubi ke beras, telah dengan sangat nyata mendorong kenaikan konsumsi beras.

Peningkatan produksi secara masif adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat itu, dan sekaligus guna mengelola gejolak harga. Maka, stabilisasi pasokan, berlangsung simultan dengan stabilisasi harga.

Kita pernah mencapai swasembada pangan, khususnya beras. Produksi beras, setara dengan pemenuhan permintaan, dan dengan tingkat harga yang terjaga, tanpa harus impor. Tapi, kita juga pernah, dan bahkan saat ini sedang menjadi importir pangan yang sangat besar. Kita “juara” importir beras, gula, kedelai, bawang putih, daging, dan apalagi gandum.

Secara internal, ekonomi politik pangan sangat sensitif dengan gejolak iklim dan bencana alam. Karena itu, skema mitigasi gagal panen, menjadi keharusan. Pada saat yang sama, ia juga sensitif pada gejolak ekonomi politik global.

Supply Side of Market Stabilization

Stabilisasi pasar pangan, dari sisi penawaran, membentang sangat panjang, sepanjang rantai nilai produksi. Pertama, teknologi perbenihan dan pemuliaan tanaman adalah game changer paling hulu.

Banyak negara sangat unggul dalam bisnis benih pangan. Brazil dan beberapa negara punya bibit sapi. Inggris paling top dalam benih kurma. China terdepan di benih jagung, dan berbagai produk pangan lainnya.

Kedua, teknologi budidaya adalah intermediate game changer, ke dalam mana HPP dapat ditekan, dan secara simultan, produktivitas per area tanam dapat dinaikkan. Raksasa budidaya pangan, seperti Amerika, China, Rusia, dan bahkan Brazil, terus melakukan advancement teknologi budidaya.

Ketiga, teknologi pasca panen, termasuk pengolahan produk pangan lanjutan, adalah game changer tahap hilir. Jelas, betapa luasnya jangkauan stabilisasi pasar dari sisi penawaran.

Demand Side of Market Stabilization

Stabilisasi pasar pangan, khususnya gandum, gula dan beras, juga dapat dilakukan melalui intervensi pada sisi permintaan. Inti dari intervensi sisi ini, adalah pelambatan atau penurunan laju konsumsi per kapita, tiga komoditas strategis ini.

Pertama, konsumsi gandum kita sudah sangat berlebih, ditandai dengan impor 11 juta ton per tahun, dikurangi reekspor produk olahan. Konsumsi gula kita telah mencapai lebih dua kali lipat dari standar aman WHO 25 gram per orang per hari. Sementara, konsumsi beras kita telah mencapai 114 kg, jauh lebih tinggi dibanding China 60 kg, Jepang 50 kg, Korea 40 kg, Thailand dan Malaysia 50 kg per orang per tahun.

Kedua, dampak nyata dari konsumsi berlebihan sumber karbohidrat ini adalah ancaman penyakit degeneratif. Hal ini, pada gilirannya akan mendongkrak biaya kesehatan, dan biaya ekonomi nasional.

Cakrawala Makna: Kualitas Material dan Simbolik

Intervensi pasar pangan pada sisi permintaan sesungguhnya adalah intervensi perilaku, dan berdimensi sosiologis. Menurut perspektif demand side of economic sociology (Beckert, 2009; 2010; 2019), arena pasar adalah interaksi sosial pertukaran barang dan jasa, yang hanya dapat dijelaskan dalam konteks keterlekatan (embeddedness) struktur sosial, yakni kelembagaan (institutions), jaringan sosial (social networks), dan cakrawala makna (horizons of meaning) para aktor.

Dalam konteks cakrawala makna ini, valuasi barang selalu berdimensi ganda, yakni nilai material dan nilai simbolik barang. Konsumsi beras, gandum dan gula bertumpu sangat kuat pada kedua dimensi kualitas barang ini.

Pertama, rasa, warna, aroma, kepulenan, tekstur, nilai gizi dan aspek fisik lain, ketiga jenis pangan itu, sangat menentukan keputusan seseorang untuk konsumsi. Selain itu, kebiasaan makan sejak kecil, cenderung membentuk ketergantungan metabolik dan enzymatik bagi konsumen.

Kedua, pada saat yang sama, kesukaan pada gandum, beras dan gula juga didorong oleh makna simbolik barang konsumsi ini. Status sosial, gaya hidup, dan bahkan penciptaan ilusi diri (Campbell, 1987) menjadi pemicu naiknya konsumsi beras dan gandum, yang menggeser peran jagung, ubi, bahkan sagu. Sementara, tingginya konsumsi gula, antara lain didorong oleh gejala non negotiable symbolic value (Manik et al, forthcoming).

Ringkasnya, stabilisasi pasar pangan dari sisi permintaan adalah pembentukan kebiasaan makan (food habit) dan tabiat makan (food habitus) sehat, sejak masa kanak-kanak. Sudah saatnya, Pedoman Gizi Seimbang (PGS) diganti dengan Pedoman Makan Sehat dan Seimbang (PM2S). Sumber karbohidrat, gula, beras dan gandum, harus digeser dengan porsi yang lebih besar sayur mentah yang sehat, dan sumber-sumber protein, pada piring makan (my plate) kita.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
Dompetdhuafa X TS : Qurban
advertisement
Lainnya
Opini

Rakyat Layak Bangkit dan Berontak

Oleh Rizal Fadila
pada hari Rabu, 12 Jun 2024
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Persiapan pelaksanaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 79 di IKN Puser Penajam terus dilakukan. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyatakan persiapan telah mencapai 90 ...
Opini

Telkom Sang Gladiator Tanpa Perisai Tengah Menunggu Ajal

Perusahaan teknologi informasi milik kebanggaan rakyat Indonesia yakni PT. Telkom (Persero) kini tengah dalam fase mengkhawatirkan. Pasalnya, perusahaan plat merah tersebut eksistensinya tengah ...