Oleh Fuad Bawazier Menteri Keuangan Era Orde Baru pada hari Senin, 01 Jun 2020 - 10:03:12 WIB
Bagikan Berita ini :

Ketegangan US-China

tscom_news_photo_1590980592.jpg
Fuad Bawazier Menteri Keuangan Era Orde Baru (Sumber foto : Istimewa)

Sampai kunjungan bersejarah Presiden Amerika Serikat (US) Richard Nixon ke China 21 Februari 1972, China masih negara berkembang yang miskin, terbelakang dan relatif tertutup.

Kunjungan Nixon itu adalah kunjungan pertama Presiden US ke China sekaligus mengakhiri isolasi diplomasi panjang terhadap China.

Nixon bertemu Mao Zedong, pemimpin tertinggi China (PRC/ People’s Republic of China). Kunjungan Nixon inilah yang membuka China kepada dunia modern.

Setelah 48 tahun, para ahli dari berbagai disiplin ilmu masih terus saja mendiskusikan akibat dan segala aspek dari kunjungan Presiden Nixon 1972 itu.

Para politisi menilai bahwa kunjungan itu bertujuan untuk menaikkan posisi tawar US terhadap Uni Soviet (USSR), dan memberikan harapan pada rakyat Amerika sendiri yang sedang frustrasi berat menghadapi perang Vietnam yang menelan banyak korban dan ongkos.

Para ekonom melihat kunjungan Nixon itu sebagai terobosan mengambil peluang ekonomi mengingat penduduk China yang mencapai satu miliar adalah pasar yang masih serba lapar akan barang konsumsi dan barang modal.

Produsen Barat melihat China bisa di jadikan lokasi produksi yang murah. Sebagian ekonom Amerika sudah sejak awal mengkhawatirkan bahwa US sedang membangunkan naga tidur yang berpotensi mengulangi sejarah kejatuhan Romawi (sebagai lambang supermasi Barat atau Kulit Putih) oleh kulit kuning (Mongol/ Gengis Khan).

Dalam literatur Barat sering di lukiskan sebagai kejatuhan bangsa yang beradab oleh barbarian.

Pada tahun 1979 hubungan diplomatik US-China resmi dibuka, sekaligus dimulainya hubungan dagang langsung.

Perdagangan internasional (ekspor-impor) kedua negara yang hanya sekitar USD4miliar (1979) kini sudah mencapai triliunan dolar.

Dan dengan bantuan Amerika Serikat, pada tahun 2001 China menjadi anggota WTO.

Sebelumnya, pada tahun 1978, Deng Xiaoping, pemimpin baru China yang kharismatik, membuat keputusan penting yaitu membuka China untuk investasi asing.

Langkah strategis inilah yang dinilai mampu menjadikan China bertransformasi menjadi negara maju, modern dan kaya dengan pertumbuhan ekonomi selama hampir 3 dekade yang menakjubkan dunia, 10% plus.

China mampu memanfaatkan kehadiran investasi asing dengan menyerap dan menguasai teknologinya. China berhasil menjungkir-balikkan harapan Amerika dan Barat umumnya yang ingin menjadikan China sebagai pasar barang konsumsi dan tempat berproduksi murah; terbukti justru China menjadi produsen utama dunia dan menjadikan negara Barat sebagai pasarnya.

Demikian juga negara negara Timur Tengah dan berkembang lainnya termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Singapore dll sebagai sasaran pasar barang barang dari China. Neraca perdagangan China dengan banyak negara partner dagangnya rata rata surplus.

Karena derasnya investasi asing yang masuk ke China dan kuatnya ekspor ke hampir seluruh negara lain di seluruh dunia, China menjadi negara pengekspor sekaligus pemilik cadangan devisa terbesar.

Dengan bekal itu, -investasi/teknologi dan modal berlimpah, -kemajuan China begitu pesat dan merata di semua bidang termasuk IT, pendidikan dan militer.

China terdorong begitu ambisi dan agresif menerobos semua peluang bisnis, IT, militer dll dan serasa tidak sabar ingin segera menjadi super power mengalahkan US yang praktis super power tunggal setelah keruntuhan Uni Soviet.

Presiden Trump berpendapat bahwa Amerika harus segera menghentikan atau mengerem ambisi dan keagresifan China, sebelum terlambat atau dikalahkan total oleh China.

Kekhawatiran Trump terhadap agresivitas China mulai diikuti oleh banyak negara lain. Kalau mau jujur, kekhawatiran terhadap ambisi dan agresivitas China sebenarnya dirasakan juga oleh banyak negara ASEAN, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Di Kongres Amerika sekalipun, kubu Demokrat dan Republik yang biasanya berseteru, untuk urusan dengan China ini, mereka mempunyai sikap yang sama bahwa China adalah musuh yang berbahaya.

Negara negara Eropa, Australia, Jepang dan India nampaknya bergabung dengan US menghadapi sikap agresif China. China cenderung di keroyok.

Mereka berpandangan China akan menjadi super power yang serakah dan rakus serta akan memaksakan penyebaran penduduknya ke negeri lain.

Pandangan ini lebih pragmatis bila dibandingkan dengan pandangan US yang lebih kepada perebutan supermasi dunia. US ibarat juara bertahan yang khawatir kalah dan posisinya diambil lawannya.

Bagi US, perebutan siapa supermasi dunia adalah perang total yang harus dimenangkan. Sedangkan issue issue yang timbul seperti trade war, tudingan pencurian teknologi Barat, Laut China Selatan, Covid-19 dan terakhir otonomi Hongkong adalah pertempuran2 yang harus dihadapi untuk memenangkan perang utama.

Pertempuran-pertempuran itu bisa saja berubah menjadi perang, dan perang sekarang bisa perang militer, intelijen, diplomasi, senjata biologis, perang ekonomi sampai salah satu pihak bangkrut, lemah dan menyerah.

Meja perundingan biasanya sulit menyelesaikan perseteruan model ini karena ambisi dan gengsi kedua belah pihak amat besar. Itulah sebabnya perundingan trade war US -China cenderung mentah dan berkali kali gagal.

Untuk memperkuat kubunya melawan China, konon Amerika ingin memperluas G7 dengan memasukkan sekutunya seperti Korea Selatan, Australia dan India. Rusia yang nampaknya masih netral juga akan dimasukkan. Mungkin menjadi G11.

Pertanyaan utamanya adalah senjata perang apa yang akan digunakan US dan teman temannya dalam menghadapi China yang sudah serba kuat itu?

Pertama, US dan kawan kawannya akan menarik investasi mereka dari China. Langkah ini tentu akan mengganggu pertumbuhan ekonomi China yang bisa berakibat luas yaitu pengangguran, kemiskinan, pengurangan modal dan melambatnya perkembangan teknologi China.

Kedua, mengurangi perdagangan internasional dengan China.
Dua hal strategis itu (investasi dan perdagangan internasional) adalah sumber awal kekuatan ekonomi China.

Bila kedua sumber kekuatan China itu diganggu, kemungkinan akan menimbulkan ketidak-stabilan politik dalam negeri China.

Untuk mewujudkan ambisi mengisolasi kembali China, Pemerintah Jepang bersedia membiayai ongkos pindah investor Jepang dari China. Sedangkan Presiden Trump “memaksa” investor meninggalkan China dengan ancaman tarif.

Menilik besarnya investasi asing di China maupun ekspor China, dapat dipastikan bahwa bila benar kubu pro Amerika berhasil melaksanakan rencana tsb, China akan kedodoran dan kemungkinan menyerah.

Karena bagi China pertumbuhan ekonomi yang tinggi masih amat di perlukan untuk melanjutkan program kesejahteraan dan kemajuan China maupun stabilitas politik dalam negerinya.

Sementara lawan lawannya tentu saja ikut menanggung beban kerugian dari perang melawan China, tetapi tidak seberat beban yang di pikul China. Mengapa? Karena ekspor mereka ke China tidak sebesar impornya. Dan barang barang yang di impor dari China umumnya dapat di produksi sendiri meski lebih mahal.

Bahkan barang yang di impor dari China itu dulunya sudah diproduksi sendiri. Sedangkan investasi yang di tarik dari China dapat dipindahkan ke negeri lain atau pulang kampung.

Kerugian lain dari perang dagang dan perang “ini itu” dengan China yang dimulai tahun 2018 itu sebenarnya amat luas dan memasuki hampir semua bidang.

Nilai pasar atau kapitalisasi perusahaan perusahaan US ditaksir oleh The Fed telah turun USD1,7Triliun. Pertumbuhan investasi di US juga turun 0,3% (2019) dan tahun 2020 diperkirakan turun 1,6%. Masih menurut studi The Fed, perusahaan2 US umumnya menanggung beban kenaikan harga akibat kenaikan tarif baik di US maupun di China.

Ketegangan kubu US dengan China yang praktis masih sendirian itu dari hari ke hari terus melebar dan terakhir ini mengancam pengusiran (sebagian) mahasiswa China yang jumlahnya mendekati 400.000 orang dari Amerika Serikat.

Pertanyaan simpel yang biasanya muncul adalah mengapa dunia tidak begitu heboh dan risau dengan supermasi Amerika Serikat, atau Uni Soviet, Jepang dan para penjajah Eropa yang dulu dulu itu? Jawaban yang umumnya muncul adalah karena China mempunyai tendensi mengirimkan rakyatnya untuk dipindahkan ke negeri lain, khususnya ke negara berkembang.

Sementara US dan sekutunya tidak mempunyai keinginan memindahkan penduduknya. Bagi China, tidak sekedar modal dan teknologinya saja yang keluar negeri tetapi harus diikuti dengan penduduknya. Migrasi penduduk China itulah yang amat ditakutkan.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Lainnya
Opini

"Hati-hati Meliberalisasi Pasal 66" tentang Outsourcing

Oleh Timboel Siregar, , Koordinator Advokasi BPJS Watch
pada hari Senin, 13 Jul 2020
Aktivis Sosial Denny Siregar komplain data pribadinya dibuka ke publik oleh seseorang yang diduga karyawan Telkomsel. Setelah dilapor ke polisi, ternyata yang membocorkan data adalah pekerja ...
Opini

Pajak Pencairan Dana JHT Seharusnya Dihapuskan Juga

Dalam masa pandemi Covid19 ini Pemerintah telah memberikan insentif pajak kepada pekerja yaitu relaksasi fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21). Pembayaran PPh 21 dihapuskan oleh Pemerintah ...