Oleh Jemmy Setiawan, Ketua DPP Partai Demokrat pada hari Minggu, 15 Mar 2020 - 20:23:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Tantangan Regenerasi Demokrat

tscom_news_photo_1584278580.jpg
Jemmy Setiawan, Ketua DPP Partai Demokrat (Sumber foto : Ist)

Partai Demokrat berkongres tanggal 15 Maret. Agenda terpentingnya, tentu regenerasi partai berlambang bintang mercy. SBY selaku pendiri dan ikon partai pemenang Pemilu 2009 memutuskan untuk menyelesaikan jabatan Ketua Umum dan mendorong tampilnya generasi yang lebih segar untuk memimpin partai. Pidato SBY dalam arena Kongres Ke-V PD pun disebut-sebut akan menjadi pidato politik terakhir dari beliau, bagai ‘salam perpisahan’ beliau dari hiruk pikuk politik praktis.

Salamiah, setelah tidak lagi memimpin PD, SBY tentu akan mulai berjarak dari aktivitas politik kepartaian dan menjalani peran sebagai guru bangsa. Sebagaimana termaktub dalam salah satu asas kepemimpinan TNI, tut wuri handayani, beliau akan senantiasa memberikan dorongan dari belakang kepada tunas-tunas muda Indonesia untuk berkarya di berbagai bidang. Sebagai mantan Presiden dua periode, banyak pula saran berharga yang dapat beliau bagikan kepada siapapun yang memimpin negeri ini pada level nasional hingga lokal. Sebagai negarawan, beliau tentu tetap berperan pada tataran high politics guna merekatkan ikatan kebangsaan kita yang tak henti-hentinya menghadapi persoalan.

Tentu tidak mudah bagi PD untuk ‘merelakan’ SBY ‘pensiun’ dari keseharian partai. Bagi PD, SBY adalah figur sentral. Beliau membentuk dan membangun organisasi serta harus turun gunung mengatasi krisis politik tatkala berbagai kasus menghantam beberapa elit partai. Tanpa SBY, tak akan ada PD: parpol yang pertama kali mengusung jargon ‘nasionalis religius’ untuk mengatasi sekat-sekat politik aliran yang justru menguat akhir-akhir ini. Dengan sentuhan kepemimpinan SBY, PD juga tampil sebagai partai yang mewarnai perjalanan sejarah negeri.

Pemerintahan SBY (2004-2019) dinilai sukses mengukir stabilitas ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 6 persen, menjaga stabilitas politik, serta menelurkan berbagai kebijakan pro-rakyat seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan lain-lain.
Meskipun mengukir berbagai kiprah penting bersama SBY, PD harus segera bersiap menjalani era pasca kepemimpinan SBY.

Suksesi kepimpinan PD merupakan keniscayaan yang tak terelakkan. Cepat atau lambat, sebuah parpol harus menyelesaikan ketergantungannya pada figur sentral. Hal serupa juga akan terjadi pada PDI Perjuangan dengan figur Megawati atau Gerindra dengan figur Prabowo. Suksesi regenerasi PD, uniknya, bukan hanya yang pertama kali terjadi pada parpol-parpol nasionalis yang dipimpin oleh tokoh senior (PDIP, Gerindra). Suksesi ini juga terjadi pada saat dimana PD sudah lima tahun berada di luar pemerintahan. Menjalani peran sebagai satu dari hanya segelintir partai yang bukan bagian dari koalisi berkuasa, tentu bukan merupakan hal yang tidak mudah. Figur baru akan ditantang untuk memanfaatkan sumberdaya politik yang ada untuk mengembalikan kejayaan PD.


Legitimasi Pemimpin Baru


Tim pengurus PD sudah banyak mengabarkan kepada publik bahwa AHY merupakan suksesor SBY. Keriuhan politik menyambut munculnya nama AHY tentu merupakan hal yang wajar. Mantan Sekjen PD Marzuki Alie, misalnya, memprotes naiknya AHY ke tampuk kepemimpinan PD karena dianggap melestarikan politik dinasti. Sebagai orang yang sudah lama tidak aktif di partai, Marzuki tentu tidak memahami dinamika internal partai yang terjadi belakangan. Sehingga, hal-hal yang diutarakannya lebih menunjukkan bahwa yang bersangkutan kurang mencermati berbagai perkembangan organisasi.

Munculnya nama AHY sebagai kandidat Ketua Umum sesungguhnya bukan sekonyong-konyong. AHY muncul ke tengah-tengah isu suksesi kepemimpinan PD dari proses yang panjang, sejak Pilgub DKI 2017. Sejak momen itu, AHY bergerak aktif mengunjungi kader dan pengurus cabang dan daerah, serta memimpin Kogasma (Komando Gugus Tugas Bersama) yang berfungsi seperti ‘sayap’ PD untuk pemenangan Pilkada. Keaktifan AHY berkeliling menyapa masyarakat di seluruh nusantara mengerek popularitasnya sebagai tokoh politik. Dalam beberapa survei yang dirilis lembaga-lembaga survei pada Februari dan Maret 2020, nama AHY secara konsisten menempati peringkat empat besar tokoh yang memiliki elektabilitas tertinggi untuk Pilpres 2024, di bawah Prabowo, Sandiaga, dan Anies Baswedan.

Dapat dikatakan, AHY merupakan politisi PD yang saat ini memiliki daya saing elektoral terkinclong. Di posisi empat besar elektabilitas tertinggi itu, AHY merupakan tokoh yang termuda. Meroketnya popularitas dan elektabilitas AHY tentu menjadi keuntungan politik bagi PD. Sebab, sebagai partai, PD memerlukan tokoh baru yang dapat menjadi magnet bagi konstituensi baru, yakni para pemilih muda. Fakta bahwa AHY merupakan putra keluarga Yudhoyono justru menguntungkan PD karena selama ini keluarga SBY dipandang sebagai solidarity makers, perekat solidaritas, bagi kader-kader PD. Naiknya AHY ke dalam tampuk kepemimpinan PD, dengan demikian berdampak sangat positif ke dalam maupun ke luar partai.


Dalam konteks itulah, pemilihan AHY sebagai Ketua Umum PD yang baru merupakan hal yang sangat rasional. Justru, isu dinasti yang dihembus-hembuskan pihak eksternal PD sangat tidak relevan. Bagi partai non-koalisi pemerintah, energi untuk bisa bangkit kembali pada Pemilu mendatang berada pada tangan pemimpin yang 1) sanggup menjaga soliditas partai, 2) memunculkan kesegaran gagasan yang menarik para pemilih, serta 3) memiliki daya saing elektoral yang tinggi. Spirit PD untuk bangkit kembali itu tercermin pada sosok AHY. Karena itulah, amat wajar jika lawan-lawan politik merasa kurang ‘happy’ dengan naiknya AHY dan terus berupaya memunculkan narasi untuk mendelegitimasi sosok penuh harapan tersebut.

Tantangan Ke Depan


Sebagai parpol yang sedang berada di luar pemerintahan, tantangan terberat PD ke depan adalah meningkatkan pencapaian politik yang telah digenggam pada saat ini dan memenangkan kembali Pileg dan Pilpres. Beberapa parpol sudah mewacanakan parliamentary treshold 7 persen, dimana angka tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan perolehan suara PD pada Pemilu terakhir. Terlepas dari ketidaksetujuan banyak kalangan dengan tingginya angka parliamentary treshold (dan presidential treshold) yang dipatok oleh parpol-parpol koalisi pemerintah, PD harus bersiap menghadapi kemungkinan ditetapkannya angka PT itu oleh DPR. Hal itu berarti, kepemimpinan PD yang baru harus menyiapkan strategi politik yang inovatif yang memungkinkannya bertahan dan menang.

Dalam hasil survei yang dirilis MEDIAN pada Februari lalu, AHY memperoleh elektabilitas 8,3%. Memang, elektabilitas figur politisi partai tidak selalu seiring dengan elektabilitas parpol. Tapi, naiknya AHY sebagai ikon PD yang baru akan membawa dampak carry over bagi peningkatan elektabilitas PD. Tingkat penerimaan kalangan millenials kepada AHY yang tinggi, tentu diharapkan mampu makin memperluas basis pemilih partai. Dengan naiknya AHY, PD sudah semestinya mendapatkan suntikan rasa pede (percaya diri) sebelum menghadapi pertarungan politik di depan.


Sebelum sampai kepada pertarungan-pertarungan itu, AHY akan diuji kematangannya dalam mengelola organisasi partai tingkat nasional. Di sinilah kalangan internal PD berharap pada kejituan AHY dalam mengelola sumberdaya manusia di dalam kepengurusan. Harus diakui bahwa partai ini mendapatkan berkah dari banyaknya mantan aktivis mahasiswa dan ornop yang bergabung, sehingga dinamika gagasan dan kegiatan olah strategi di dalamnya menjadi hidup. Kehadiran para mantan aktivis yang telah berkiprah dalam pertarungan politik sejak belia seperti Andi Arief, Rachland Nashidik, Jansen Sitindaon, Benni K Harman, Aam sapulete serta banyak teman lain, sedikit banyak juga meningkatkan ketahanan PD dalam pertarungan politik dan adu strategi yang terkadang keras.


Regenerasi yang memberi peluang tampilnya tokoh-tokoh muda yang lebih segar semestinya menjadi semangat umum PD pasca kepemimpinan SBY. Kepemimpinan PD mendatang seyogyanya dapat memanfaatkan secara maksimal SDM dari kalangan mantan aktivis untuk menopang tugas-tugas politik AHY. Paduan para pemimpin-pemimpin muda yang berkarakter dan memiliki stamina politik tinggi akan menjadi modal kuat PD untuk merebut kembali kemenangan pada Pileg dan Pilpres mendatang. Mari bung, rebut kembali!

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #partai-demokrat  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Lainnya
Opini

Perangai Pongah Warga Menteng

Oleh Fuad Bawazier Menteri Keuangan Era Orde Baru
pada hari Rabu, 08 Jul 2020
Menteng dikenal sebagai lokasi paling elit di Jakarta. Harga tanah/rumah di Menteng dikenal tertinggi, begitu juga PBBnya. Sejarahnya, penghuni kawasan Menteng diawali oleh elit Belanda, elit Jepang, ...
Opini

Ideologi Gatot Nurmantyo, Anti Komunis Tak Bisa Ditawar

Berbagai orang saling memposting potongan wawancara Rosi Kompas TV dengan Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI, terkait kebangkitan Komunisme di Indonesia. Video itu ternyata viral bersamaan dengan ...