Kitab Suci Fiksi ala Rocky Gerung
Oleh Samuel Lengkey, SH., MH (Advokat, Dir. Eks. Jaringan  Analisis Strategis) pada hari Jumat, 13 Apr 2018 - 16:00:03 WIB

Bagikan Berita ini :

78Samuel-Lengkey.jpg.jpg
Sumber foto : Istimewa
Samuel Lengkey

Prof. Machfud MD dalam cuitannya mengatakan “itu pendapat Rocky Gerung, silahkan saja. tapi bagi saya kitab suci krn fiksi, jauh bedanya. Fiksi itu produk angan2 atau khayalan manusia sedang kitab suci adl wahyu dan pesa Tuhan. Sy meyakini, kitab suci adlh wahyu Tuhan yang ditanamkan di hati dan dipatrikan di otak orng yg beriman”

Bagi saya sebagai seorang pembaca buku-buku filsafat, hukum dan teologia kristen, membaca tanggapan Prof. Machfud MD, saya menilai beliau justru terjebak dalam metode berpikir induksi Rocky Gerung yang merupakan Dosen Filsafat UI. 

Dalam dunia sofis, pendapat Rocky Gerung bukan sesuatu yang hebat atau luar biasa, bahkan argumen-argumennya biasa aja, bahkan pendapat-pendapatnya hanya seperti pengantar buku novel filsafat saja. tak ada yang istimewa, tak ada yang luar biasa. 

Orang-orang yang kurang membaca buku saja yang terlalu terpukau, kagum bahkan terpesona oleh bahasa, diksi dan intonasi seorang Rocky Gerung. Namun, bagi orang-orang yang suka membaca buku-buku filsafat, banyak topik bahasan dan analisis tentang agama, Tuhan yang dibahas dan dikritik oleh dunia sofis lebih tajam dan kasar. 

Sehingga sampai saat ini, banyak orang terjebak dalam metode berpikir Induksi dari Rocky Gerung, bahkan sekelas Prof. Machfud MD terkecoh.

Coba kita induksi pemilihan kata dan konteks pemikiran Rocky Gerung (RG). 

Forumnya adalah Indonesia Lawyers Club TVOne yang merupakan panggung para elit politik dan akademisi untuk menampilkan kemampuan intelektualnya yang terbaik. Semua nara sumber dan pembicara yang diundang berjuang keras memukau penonton dengan menyampaikan pendapat, analisis dan argumentasinya. Acara ini telah menjadi forum diskusi kaum elit dan para akademisi yang secara bebas menyampaikan pendapat dan pemikirannya. Forum ini jugalah yang telah menjadi ruang pembelajaran paling penting dan strategis bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para pengambil kebijakan, elit partai politik yang banyak mempengaruhi perkembangan isu-isu politik dan masyarakat yang terus membutuhan pencerahan.

Dalam melakukan intepretasi ada banyak kajian yang harus digunakan, mulai dari pemahaman teks dan konteks, teks dan konteks dalam sebuah wacana, ada semantik dan semiotik, ada dialektika diantara peristiwa dan makna yang terkandung didalamnya, ada makna dan motif dari pengucap, ada metafora diantara celah penggunaan kalimat. Tapi kali ini, saya tidak mau menafsirkan dan membedah anatomi tekstual argumentasi Rocky Gerung di catatan ringan ini.
 
Mari kita deduksi metodologi induktif intepretasi yang ia terapkan dalam pemilihan kata, kalimat dan konteks pemikiran Rocky Gerung dalam diskusi Indonesia Lawyers Club, kemudian kalimat tersebut kita ambil secara utuh dan hindari kutipan parsial yang mengakibatkan kekeliruan dalam penyimpulannya.

Sebelum RG menyatakan “semua kitab suci itu adalah fiksi” ada kalimat pengantar yang mendahului pernyataannya, itulah konteks induksi metode berpikir RG yang mengakibatkan banyak orang terjebak dalam intepretasinya. Jebakan kalimat yang dikutip secara parsial tersebut, mengakibatkan beberapa orang yang memiliki pengetahuan terbatas menjadikannya sebagai unsur delik dan melaporkannya ke Polda Metro Jaya. 

Dalam konteks argumentasi “semua kitab suci adalah fiksi” sebelumnya RG telah mendahului kalimat itu dengan “KALAU SAYA PAKE DEFINISI BAHWA FIKSI ITU MENGAKTIFKAN IMAJINASI, KITAB SUCI ITU ADALAH FIKSI… dst”. 

Coba anda putar lagi rekaman ILC yang banyak tersebar di media sosial, putar perlahan-lahan dan perhatikan secara cermat. Maka, anda akan menemukan kalimat pendahuluan sebagai pengantar argumentasi. Ini yang tidak kita cermati secara jeli dan membuat banyak orang terjebak penafsirannya dalam keributan yang terus berkembang saat ini. Pendapat terburu-buru tanpa jeli melihat konteks argumentasi secara utuh, membuat semua orang gagal menafsirkannya secara kontekstual. Tanpa sadar pemikiran kita mampu dijebak oleh metode induksi Rocky Gerung.

RG mengantar logika berpikir kita tentang Kitab Suci itu Fiksi dimulai dengan “kalau saya pake definisi…”. Jadi, konteks kalimat itu adalah definisi yang dipakai berdasarkan dalil-dalil dan rumusan semantik tentang pemahaman teks dan konteks, dialektika diantara makna dan peristiwa. RG cerdas menjebak metode berpikir kita, karena dia menggunakan konteks FIKSI UNTUK MENGAKTIFKAN IMAJINASI. Jadi bukan pernyataan tunggal dan tegas, ada kalimat didepan yang menuntun kalimat selanjutnya, hingga kalimat yang kontroversial itu menjadi viral dan menjadi perdebatan nasional.

Di Grup Peduli Negara 1, dimana anggotanya berasal dari semua agama, orang-orang kritis dan forum yang memberikan kebebasan bagi semua orang untuk berpikir kritis, bebas dan selalu terbuka mengeksepresikan sikapnya, saya menguraikan korelasi konteks Kitab Suci itu fiksi dengan agama.

Saya ingin merangkum dan menjelaskannya secara singkat fungsi korelatif intepretasi induksi RG dengan teologi, seperti dalam grup diskusi Peduli Negara 1.

Fiksi dan Imajinasi
Bagi saya, fiksi itu hanyalah kumpulan pemikiran imajinatif yang ada dalam pemikiran semua manusia yang mampu mengembangkan pikirannya secara kreatif. Imajinasi adalah salah satu kemampuan berpikir manusia untuk menganalisis dan berpikir kreatif terhadap sesuatu yang belum ia temui secara faktual. Imaginasi yang mampu membawa pemikir itu menggapai sesuatu didepan, melampaui kenyataan (realitas) yang ia lihat dan terima saat itu.  Imajinasi mampu menembus ruang pemikiran manusia yang dibatasi oleh pengalaman dan pengetahuannya. Salah satu kekuatan imajinasi adalah menghasilkan ide dan jika terus dikembangkan, ide itu menjadi rumusan berpikir tentang masa depan, ini yang sering kita sebut sebagai pemikiran visioner salah satunya adalah ideologi karena diaktifkan oleh sensasi-sensasi berpikir ke depan berdasarkan masa lalu, masa sekarang dan keinginan masa depan.

Pemikiran imajinatif adalah imajinasi pemikir itu sendiri. Pemikir yang berpikir imajinatif tergantung dari kemampuan dan kekuatan pemikiran yang dimiliki pemikir itu sendiri. Kemampuan berpikir pemikir didapatkan dari apa yang dia baca, apa yang dia pelajari dan apa yang dialami, sehingga imajinasi pemikir yang berpikir memampukan dia berpikir tentang apa yang ia ingin pikirkan dan ingin dia sampaikan dalam berbagai bentuk dan ekspresi.

Semua yang ada dalam alam pemikiran pemikir itu, dia ekspresikan dalam berbagai bentuk, mulai ekpresi lisan dan tulisan. Ekspresi imajinasi pemikir dalam tulisan, ia wujudkan dalam cerita dan dalam cerita itu mengandung fakta, harapan, keinginan, pengalaman, cita-cita, perasaannya dan apa yang dia pikirkan dimasa depan yang belum terjadi dan mungkin terjadi. Didalam cerita itulah pemikir menuangkan semua perasaan dan pemikirannya, sesuai motif yang ingin dia sampaikan.

Dalam menyampaikan cerita imajinasi terus bertemu dengan keyakinan, maka pemikir itu masuk dalam ruang realitas yang sangat besar dan penuh misteri, karena itu imajinasi terus berusaha masuk dalam keyakinan akan realitas yang ia temui. Pemikir itu disadarkan oleh sebuah kenyataan bahwa kekuatan imajinasi yang ia miliki, ada sebuah realitas yang belum mampu dicapai, digapai dan di pecahkan oleh imajinasi. Kekuatan Imajinasi itu seperti kuda liar yang tak memiliki tali kekang, dia bebas, lepas dalam menanggapi berbagai kenyataan yang dia jumpai dan semua keyakinan yang ia dapatkan. Imajinasi berusaha dengan kekuatannya yang selalu memberontak terhadap kenyataan dan keyakinan, berusaha melepaskan diri dari hukum-hukum alam yang teratur, dan keseimbangan alam yang mencengkram kekuatan imajinasi itu. Inilah sebuah realitas alam nyata yang dihadapi oleh imajinasi itu, ia berhadapan dengan kenyataan dan kenyataan itu sudah berwujud dalam suatu bentuk, yakni keyakinan. 

Keyakinan dan Kepercayaan
Keyakinan itu bukanlah suatu imajinasi, tapi sebuah kepercayaan yang dihasilkan oleh berbagai kenyataan. Kenyataan ini bukan ruang eksperimen dari imajinasi, karena imajinasi bergerak liar dan bebas dalam ruang ide, visi, alam pemikiran yang tak terbatas, sementara kenyataan adalah ruang yang disadari secara sadar oleh pemikir itu sendiri. Imajinasi tak berkutik dalam menghadapi kenyataan, karena kenyataan harus direspon dengan sikap dan tindakan. Kenyataan demi kenyataan yang diterima pemikir membuat pemikir yang berimajinasi mencapai ruang realitas dan ruang realitas terwujud dalam keyakinan.

Keyakinan bukanlah abstaksi dari imajinasi, keyakinan merupakan ekspresi dari realitas itu sendiri. Keyakinan menampilkan berbagai kenyataan, mulai dari keteraturan, keseimbangan, keharmonisan, keindahan, kesejukan, dan berbagai realitas alam yang langsung dirasakan manusia. Realitas alam semesta itulah yang mewujudkan keyakinan, bahwa dibalik semua ini ada sang realitas itu sendiri yang mencipta dan mengatur realitas alam semesta. Kekuatan fiksional pemikir tak akan mampu menghadapi keyakinan, karena keyakinan itu nyata dan bukan imajinasi lagi. 

Keyakinan inilah yang menghantar, menuntun dan mencengkram daya fiksi imajinasi pemikir itu sendiri. Keyakinan itu akhirnya menjadi tali kekang bagi imaginasi liar tak terbatas pemikir yang berimajinasi. Imajinasi menjadi terarah dalam ruang-ruang keyakinan yang menyadarkan pemikir imajinatif untuk menerima keyakinan sebagai kekuatan yang mengendalikan.

Keyakinan itu bisa berbentuk agama atau hanya berbentuk pemahaman umum atau kebenaran yang diakui secara umum. Dalam konteks tulisan ini, saya batasi saja dalam pemahaman keyakinan teologis.

Keyakinan teologis adalah kepercayaan terhadap sang realitas yang mengatur keteraturan, keseimbangan, keharmonisan, keindahan, kesejukan, dan berbagai realitas alam dirasakan dan dialami pengalamannya oleh manusia. Ia merasakan dan mengalami, semua itu bukanlah imajinasi, tetapi kenyataan. Kenyataan inilah yang membuat pemikir yang dulunya berimajinasi, mengalihkan kemampuannya untuk menyusun berbagai tulisan, cerita dan pendapat realitas itu karena pengalaman nyata yang ia alami. Pengalaman ini dirumuskan dalam berbagai bentuk keyakinan teologis. 

Imajinasi visioner tentu berkontribusi untuk menyusun keyakinan teologis, karena dalam hal ini kekuatan imajinasi sudah terarah. Ia mulai berusaha menemukan landasan berpikir untuk menyusun langkah-langkah untuk mewujudkan tujuannya mencapai sang realitas. Saat imajinasi bertemu kenyataan realitas, ia menemukan dirinya telah bersama dalam karya sang realitas itu sendiri.  Imajinasi berubah bentuk menjadi keyakinan, karena dulunya ia berimajinasi tentang sang realitas, namun saat ia berada dalam jalan sang realitas itu. Keyakinan itulah membuat imajinasi meninggalkan sensasi-sensasi pikiran bayangan kreatif. 

Keyakinan teologis itu mengubah kekuatan fiksional imajinasi, karena kepercayaan teologi menyediakan fakta realitas alam semesta dan alam semesta lebih luas, lebih besar dan tak terselami karya dan daya kreasinya. Teologis itu menuntun imajinasi bertemu dengan Tuhan, melalui berbagai bentuk karya keyakinan. Keyakinan dengan segala karyanya membuktikan Tuhan sebagai pencipta dari kekuatan alam semesta yang imajinasi coba pecahkan misterinya. Imajinasi bertemu dengan sang pembuat misteri alam semesat itu sendiri dan imajinasi menemukan, Tuhanlah yang menciptakan imajinasi agar supaya kekuatan imajinasi itu bertemu dengan penciptanya.

Saat imajinasi bertemu dengan mencipta imajinasi itu, maka imajinasi dituntun untuk merumuskan pemikiran-pemikirannya tentang alam semesta dengan penciptanya. Maka lahirlah karya-karya kepercayaan yang akan menuntun semua pemikir yang berimajinasi untuk menyelami luasnya alam semesta raya. Alam semesta raya menyediakan semua pertanyaan kritis dan imajinasi liar pemikir tentang kepercayaan.

Fiksi menjadi sirna, imajinasi tak berdaya karena mereka telah bertemu dengan keyakinan. Keyakinan mengantar mereka kepada sang creator. Mereka berubah dan kekuatan mereka menjadi bagian dari kemampuan kepercayaan untuk dikembangkan dan terus dipelajari. Kreator tak bisa ditemui langsung, namun alam semesta yang tak terbatas, luas tak terselami itu menyediakan jalan untuk membangun ajaran-ajaran tentang Kreator itu sendiri. Kreator bisa dirasakan, tapi tidak bisa dijamah, bisa ditemui tapi tak bisa dilihat, bisa dibayangkan tapi tak berwujud. Ia masih sebuah realitas yang tidak bisa dilihat oleh mata, tidak bisa dijamah oleh tangan kita, tapi Kreator itu nyata dalam manifestasi karyanya.

Kepercayaan mengendalikan imajinasi yang mau tunduk pada Kreator dan kepercayaan secara perlahan memanisfestasikan eskistensinya dalam rumusan-rumusan ajaran dan ajaran-ajaran itu dalam hal ini menghasilkan ilmu yang kita namakan teologi. 

Teologi dan Kepercayaan
Teologi dan kepercayaan tentu memiliki kajian dan rumusan yang berbeda, karena kepercayaan bisa saja rangkaian pengetahuan yang tak memerlukan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta, sementara Kepercayaan Teologi adalah ajaran tentang kepercayaan yang didasari ajarannya kepada Tuhan sang Kreator atau Sang Realitas itu, yang saya sudah uraikan secara gamblang diatas.  

Perbedaan antara kepercayaan dan kepercayaan teologis akan kita bahas lain kali dalam #catatanringan berikutya.

Teologi adalah keinginan manusia untuk mengenal Tuhan dan seluruh ajaran tentang Tuhan itu sendiri. Teologi merupakan bagian dari upaya manusia untuk mengenal Tuhan, dan eksistensi pengenalan dari Tuhan kepada manusia. Tuhan adalah realitas tak terbatas, tak mampu diurai oleh kekuatan pemikiran atau daya imajinasi liar manusia. Tuhanlah sang pencipta imajinasi itu dan imajinasi itu, Dia taruh dalam akal manusia untuk  menemui Dia. Jadi imajinasi akan menemukan jalan menuju ke Tuhan dan imajinasi itu akan membantu menerangkan ajaran-ajaran tentang Tuhan.

Pertanyaan kemudian adalah Tuhan yang mana? Karena semua agama memiliki ajaran yang berbeda tentang Tuhan, tentang kitab suci. Kita juga bisa terjebak dalam diskursus Tuhan sebagai fiksi imaginatif, karena itu belum bisa dibahas dalam tulisan ini. Nanti, suatu saat kita bahas dalam #catatanringan berikutnya, karena sangat sensitif dan akan bersinggungan dengan, doktrin, dogma dan apologetika semua agama. 

Tugas teologi menjawab misteri Tuhan itu sendiri, teologi sebagai pelayan Tuhan untuk memberikan landasan adanya Tuhan dan Teologi adalah pelayan Tuhan itu sendiri. Teologi harus menjawab misteri alam semesta, memberikan jalan keluar bagi daya upaya kritis pikiran manusia yang menegasikan eksistensi Tuhan. Rasionalitas dengan segala kemajuan berpikir, kemampuan teknologi, kemampuan daya cipta manusia, membuat Tuhan tidak ada. Semua terjadi seperti apa yang manusia alami. 

Pemikir fiksional yang telah menemukan Tuhan bertugas menjadi teolog untuk menjawab tantangan imajinasi liar lainnya, karena imajinasi-imajinasi liar itu laksana serigala yang selalu siap memangsa kepercayaan itu sendiri. Maka Teolog atau pemikir imajinatif yang telah menemukan Tuhan, bertugas untuk melayani Tuhan melalui rangkaian ilmu dan ajaran tentang Tuhan, hingga mampu menjawab tantangan daya kritis pikiran manusia. 

Jadi fiksi adalah kemampuan imajinasi manusia dan proses imajinasi itu ada dalam ruang akal manusia yang penuh hayalan, mimpi, keinginan, cita-cita, terlebih utama logika manusia yang sangat kritis untuk menghalau eksistensi Tuhan dalam daya rasionalitasnya. 

Sedangkan Kitab Suci adalah karya Tuhan untuk menjawab imajinasi manusia itu sendiri dan kitab suci sebagai buku tulisan Tuhan sendiri sebagai pegangan dalam menerangkan jalan berpikir manusia dengan segala imajinasinya.

Jadi bagi saya, pendapat Rocky Gerung dalam program diskusi Indonesia Lawyers Club yang menyatakan “Kitab suci itu fiksi” adalah intepretasi semantik (filosofis) dan bukan pernyataan iman atau serangan teologis. Pendapat filosofis adalah ungkapan dan pernyataan kritis pemikir untuk menantang para teolog meyakinkan agama dan Tuhannya.(*)

 

TeropongKita adalah media warga. Setiap opini/berita di TeropongKita menjadi tanggung jawab Penulis.

tag: #rocky-gerung  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca TeropongSenayan Yth

Dua pasangan calon (paslon) Pilpres 2019 telah mendaftar ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI di Jakarta, Jumat (10/8/2018). Kedua paslon itu adalah Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jokowi-Maruf didukung oleh sembilan partai. Yakni PDIP, Partai Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, PKB, PSI,Perindo, dan PKPI. Sedangkan Prabowo-Sandiaga didukung oleh empat partai. Yakni Partai Gerindra, PAN, PKS, dan Demokrat.

Dua cawapres, yakni Maruf Amin dan Sandiaga Uno disebut-sebut turut menentukan kemenangan sang capres pada 2019 nanti. Tentu, baik Maruf maupun Sandiaga memiliki kelebihan masing-masing, yang akan diekplorasi habis-habisan guna menarik simpati pemilih.

Nah, jika pilpres dilaksanakan hari ini, siapa yang akan Anda pilih:

  • 1.Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2.Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
LIHAT HASIL POLING