Opini

Mobil Esemka, Proyek Basi Yang Ditiup Terus

Oleh Ignatius Budiarto (Wartawan senior) pada hari Sabtu, 06 Apr 2019 - 19:31:28 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1554553888.jpg

Ilustrasi mobil esemka (Sumber foto : Ist)

Entah sudah berapa kali saya tertawa terus kalau membaca di media massa nama mobil Esemka. Yang terakhir kali saya tertawa adalah ketika Cawapres Ma’ruf Amin mengeluarkan statemen bahwa mobil Esemka bakal keluar pada bulan Oktober 2018. Sampai sekarang belum keluar juga tuh batang hidung mobil tersebut secara resmi ke pasar.

Nama Esemka mencuat ke permukaan pertama kali gara-gara Joko Widodo tahun 2012 pada waktu dia menjabat sebagai walikota Solo. Bahkan Jokowi, yang sekarang menjadi petahana dalam pemilihan pilpres 2019, menjadikan Esemka sebagai mobil dinasnya sebagai walikota. 

Mobil yang diberi nama Esemka ini diklaim sebagai mobil buatan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo, Jawa Tengah. Mobil Esemka generasi pertama adalah Esemka Rajawali, yang dijadikan mobil dinas Jokowi.

Mobil ini  SUV 7 penumpang dengan kapasitas mesin 1500 CC bertenaga 105 hp pada 5500 rpm dan torsi 145 Nm pada 4100 rpm, dikombinasikan dengan transmisi manual 5-kecepatan.

Katanya Rajawali 1 dikerjakan oleh siswa SMKN 2, SMKN 5 dan SMK Surakarta di bawah bimbingan Sukiyat, pemilik bengkel Kiat Motor, yang kabarnya jadi mentor para siswa. Tapi saya kurang percaya jika para siswa membuat mobil itu dari nol dan betul-betul hasil karya mereka.

Setelah Rajawali 1, akhirnya muncul lagi Rajawali 2 yang diklaim sebagai penyempurnaan dari sebelumnya. Nama Esemka dan Jokowi pun mulai melambung di pusaran media massa. Apalagi ketika Jokowi digadang-gadang sebagai Cawagub DKI Jakarta. Bahkan dalam perkembangannya Jokowi mengklaim pihak Esemka sudah mendapat pemesanan mobil sampai ribuan unit.

Akhirnya media massa mulai mengendus ketidakberesan Esemka. Setelah dilakukan penelusuran, mobil itu mirip dengan mobil buatan Guangdong Foday Automobile dari Cina.

Rajawali 1 dan Rajawali 2 sangat identik dengan Foday Explorer 3 dan Foday Explorer 6. Begitu juga dengan mobil double cabin Esemka Digdaya yang identik dengan Foday Xiongshi F22. Tapi semuanya diklaim sebagai mobil Esemka, buatan Indonesia dan karya pelajar SMK.

Tidak hanya main di SUV dan double cabin, Esemka juga merilis pick-up yang diberi nama Esemka Bima, padahal itu mobil buatan Foday juga.

Pada tanggal 2 April 2019 kemarin, media www.tempo.co menuliskan bahwa Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah memberi sertifkat uji tipe (SUT) untuk 11 tipe mobil Esemka. Mobil pun disebut sudah laik jalan. Tapi jangan lupa, pada Oktober 2018 lalu, delapan mobil Esemka juga dinyatakan sudah lolos uji tipe. Nah apakah ke-11 mobil yang dituliskan oleh www.tempo.co itu adalah sudah termasuk mobil yang terdahulu, atau ada tipe maupun model baru yang diuji?

Menurut saya, isu mobil Esemka ditiup-tiup terus, padahal ini proyek yang basi. Esemka sebagai merek mobil tidak jelas dan tak memiliki track record pabrikan yang transparan yang jernih. Coba tengok pabrikan mobil yang bermain di pasar Indonesia, semuanya jelas dan rekam jejak dijamin pasti.

Kalau kita mau menyebut nama merek, di Indonesia beredar kok merek mobil dari Cina yakni Wuling dan DFSK. Keduanya memiliki laporan investasi dan pabrikan yang jelas dan transparan sehingga diketahui sejernih mungkin oleh media massa dan publik.

Toyota, Mitsubishi, Wuling, Nissan memproduksi mobilnya di Indonesia dan memakai tenaga kerja lulusan SMK. Lulusan SMK itulah yang mengerjakan mobil-mobil yang dibuat di Indonesia, tapi bukan berarti mobil itu dibuat oleh para pelajar SMK atau lulusan SMK. Mereka memproduksi di bawah naungan teknologi dan SDM yang diatur oleh pabrikan masing-masing.

Kita itu harus memberikan suri tauladan kejujuran kepada generasi penerus, kalau tidak anak-anak bangsa ini bisa rusak. Jangan mengajari generasi muda dan generasi penerus kita menyuguhkan data-data yang direkayasa, yang seolah-olah fakta dan betul padahal sebenarnya menyesatkan dan kabur. 

Pihak Esemka harus jujur dan memberikan data yang jelas, transparan dan sejernih mungkin. Industri otomotif itu bukan industri main-main, apalagi ini berkaitan dengan konsumen pembeli mobil. (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pilpres-2019  #jokowimaruf-amin  

Bagikan Berita ini :