Misteri Cahaya di Kafe Tji Liwoeng, Sebelum Meninggalnya Agus Edi Santoso

Oleh Pendiri Media Republika Ahmadie Thaha pada hari Sabtu, 11 Jan 2020 - 12:35:04 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1578720904.jpg

Pendiri Media Republika Ahmadie Thaha (Sumber foto : Istimewa)

Advertisement

Persis sebulan lalu menurut hitungan kalender Hijriyah, di malam Jumat 15 Rabiul Akhir 1441, saya bertandang ke kafe Mas Agus Edi Santoso, membonceng anak bungsu saya Qonita yang hafidzah. Hanya butuh waktu sekitar 20-an menit bagi saya untuk tiba di sana.

Karena badannya kurang sehat, masih batuk termehek-termehek sepulang dari Rakernas LazisMu di Rinjani, Mas Agus menerima saya di kamar tidurnya yang ber-AC. Usai shalat maghrib, tiba-tiba dia mengajak saya naik ke lantai atas, ke ruang kafe yang baru beberapa bulan dibukanya. Rumahnya tertingkat tiga dengan arsitektur Bali.

Duduk di ruang kafe yang terbuka dan diterpa angin Ciliwung ini, di kursi antik asal Madura yang memenuhi seluruh kafenya, Mas Agus coba mencari posisi agar batuknya tak menjadi-jadi. Dia coba menutup tubuhnya dengan jaket, agar angin Ciliwung tak mengganggunya. Saya pun berusaha memintanya kembali ke kamar saja, tapi dia menolak.

Sambil saya minum kopi racikan baristanya asal Bali, saya mendengar cerita Mas Agus tentang putrinya di Madura yang baru selesai ujian pertengahan tahun, dan rencananya mau pulang liburan. Dia bangga anaknya yang bungsu sudah hafal salah satu surah al-Qur"an yang agak panjang, dan minta dites oleh Qonita. Selain hafalan anaknya tepat, bacaannya bagus sekali.

Di tengah itu, datang seorang kawan, mantan wartawan SWA, kini jadi pengusaha importir, yang saya lupa namanya. Kami pun terlibat diskusi bermacam hal, terutama kondisi ekonomi yang lesu di mana-mana. Juga tentang usaha kuliner, racikan mie Acehnya, serta resep kopinya. Tak terasa, jam sudah menunjukkan hampir pukul 22.00 WIB.

Akhirnya saya pamit pulang. Tapi sebelum itu, saya minta berfoto bersama. Menggunakan kamera HP saya, Castro anak laki-laki Mas Agus diminta memotret kami yang duduk di meja. Begitu melihat hasil jepretannya yang empat kali, saya kaget kok ada beberapa cahaya seolah-olah berasal dari lampu sorot dalam foto itu, padahal di dalam kafe tidak ada lampu-lampu yang memungkinkan mengeluarkan cahaya seperti itu.

Saya lantas teringat, malam itu malam Jumat, maka saya pun bilang ke Mas Agus, pasti ada sesuatu makhluk gaib hadir di ruang ini, yang hanya bisa tertangkap cahayanya di kamera. Makhluk itu kemungkinan memang terbuat dari cahaya.

Lantas, kami pun terlibat diskusi, sambil badan mulai terasa merinding dan terkesiap tentang kemungkinan hadirnya makhluk halus seperti malaikat. Sempat terbetik di kepala, jangan-jangan hari-hari Mas Agus sudah dekat, apalagi kesehatannya terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Cahaya itu tetap misteri sampai sekarang.

Yang pasti, persis sebulan kemudian, Jumat malam Sabtu 14 Jumadil Ula 1441 (10 Jan 2020), pkl 21.11, Mas Agus Edi Santoso wafat di RS Harapan Kita. Saya sempat beberapa kali membisikkan tahlil dan hauqalah ke telinganya, sebelum dokter menyatakan dia sudah tiada. Dia pergi selamanya meninggalkan seorang istri dan empat putera-putri, serta jutaan kenangan bagi para sahabatnya yang begitu banyaknya.

Selamat jalan Mas Agus dengan khusnul khatimah.

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #  

Bagikan Berita ini :