Opini
Oleh M Hatta Taliwang pada hari Kamis, 05 Jan 2017 - 13:04:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Heboh Penyelundupan Oleh Soeharto Sebagai Pangdam Diponegoro

96Hatta Taliwang.jpg
M Hatta Taliwang (Sumber foto : Eko S Hilman/TeropongSenayan)

Sekilas, dalam tulisan sebelumnya disinggung hubungan Jenderal AH Nasoetion dengan Jenderal Soeharto yang diduga memburuk setelah peristiwa barter Diponegoro. Namun dibantah oleh Nasution bahwa dia tidak merasa demikian.

Sebenarnya apa sih barter atau penyeludupan yg terjadi saat itu?

Dalam tulisan di TIRTO.ID edisi 25 Oktober oleh Reporter Petrik Matanasi ditulis sbb :

Diungkapkan sebuah kejadian di akhir dekade 1950-an Soeharto pernah kedapatan melakukan penyelundupan ketika menjadi Panglima Tentara Teritorial Diponegoro di Jawa Tengah (Jateng). Bersama Soeharto dalam bisnis ilegal itu ada nama Bob Hasan. Nama Liem Sioe Liong juga disebut sudah bermain dengan Soeharto sejak di Jawa Tengah. Ketika itu di Jawa Tengah sawah-sawah banyak gagal panen, sehingga Jawa Tengah impor beras dari Singapura.

“Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras. Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang,” demikian pengakuan Soeharto dalam Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989).

Menurut Subandrio, mantan Wakil Perdana Menteri dan Kepala Intelijen BPI dalam buku Kesaksianku Tentang G30S (2001), Soeharto dibantu oleh Letkol Munadi, Mayor Yoga Sugomo, dan Mayor Sujono Humardani diduga terlibat ikut menjual 200 truk AD selundupan kepada Tek Kiong.

Belakangan, Soeharto pun merasa dituduh sebagai koruptor beras.

Pada 18 Juli 1959, menurut laporan Antara, tim Inspeksi Angkatan Darat dari Jakarta tiba di Semarang. Mereka memeriksa kebijakan Soeharto selaku Penguasa Perang di Jawa Tengah.

Tim pemeriksa dibentuk juga oleh Markas Besar Angkatan Darat, yang diketuai Soeprapto dengan anggota Suwondo Parman, Mas Tirtodarmo Haryono, dan Sutoyo Siswomiharjo. Mereka adalah para perwira yang punya latar belakang sebagai intelijen, jaksa militer dan polisi militer. Sebagaimana diketahui belakangan diketahui keempatnya jadi korban penculikan 30 September 1965.

“Berita penyelundupan itu cepat menyebar. Semua perwira saat itu mengetahuinya,” kata Subandrio.

Mengetahui hal ini, Yani marah. Kasus penyelundupan dinilai telah memalukan Korps

Setelah kasus ini terbuka ke publik oleh Markas AD, Soeharto diganti dengan Kolonel Pranoto Reksosamudro sebagai Panglima Tentara & Teritorium IV/Diponegoro. Pada saat itu Panglima menjabat Penguasa Perang Daerah (Paperda).

Di sinilah hubungan Soeharto dengan Pranoto memburuk. Penyebabnya saat tim pemberantasan korupsi Angkatan Darat turun ke daerah-daerah menyelidiki dugaan korupsi para panglima. Tim ini diketuai oleh Brigjen Soengkono.

Berdasarkan catatan pribadi Pranoto yang kemudian disunting Imelda Bachtiar dan diterbitkan Kompas tahun 2014 dengan judul "Catatan Jenderal Pranoto dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya" terungkap bahwa Pranoto mengaku memberikan fasilitas dan keleluasaan untuk tim audit tersebut selama bergerak di wilayah militernya.

Tim ini menemukan sejumlah pelanggaran yang dilakukan Kolonel Soeharto saat menjabat Panglima di Jawa Tengah. Antara lain barter liar, monopoli cengkeh dari asosiasi gabungan pabrik rokok kretek Jawa Tengah. Ada juga penjualan besi tua yang disponsori sejumlah pengusaha Tionghoa seperti Lim Sioe Liong.

Brigjen Soengkono melaporkan hal ini pada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Nasution. Soeharto sempat malu dan berniat mengundurkan diri karena kasus ini. Namun Nasution menolaknya

Nasution pula yang kemudian menyelesaikan kasus ini. Soeharto diberi sanksi administrasi sedangkan Pranoto diperintahkan menertibkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di Jawa Tengah.

Masalah rupanya belum selesai menurut Imelda Bachtiar, Soeharto sudah menaruh dendam pada Pranoto. Dia termakan kasak kusuk yang menyebut Pranotolah yang meminta tim Angkatan Darat menyelidiki masalah ini

Wakil KASAD Letjen Gatot Soebroto memanggil kedua anak buahnya ini. Dia meminta keduanya berbaikan. Namun Soeharto sempat menolak.

“Bagaimanapun aku merasa dipermalukan dan dicoreng-moreng oleh sebab perbuatannya,” kata Soeharto.

Pranoto membela diri. “Demi Allah, laporan-laporan itu bukanlah aku yang melakukan dan aku pun tak perlu menuduh dari mana ataupun dari siapa laporan itu dibuat. Hal itu tidak benar dan kalau perlu Kolonel dapat menuntutnya.”

Letjen Gatot Subroto menyela perdebatan itu dengan gayanya yang kebapakan. Dia meminta Pranoto dan Soeharto berdamai.

“Kalian seperti anak kecil. Di hadapanku jangan pada bertengkar. Sudah bubar. Ayo pada salaman,” kata Gatot.

“Kami terpaksa bersalaman. Betapapun di hati masing-masing terasa hambar,” kenang Pranoto melukiskan peristiwa tahun 1960 itu. Persahabatan dua perwira TNI ini pun berakhir

Kelak setelah G30S meletus, Mayor Jenderal Soeharto menahan Mayjen Pranoto dengan tuduhan terlibat aksi militer G30S yang didalangi PKI. Tanpa pengadilan, Pranoto menjalani penahanan selama 15 tahun.

Sejumlah pihak menyangka dendam Soeharto yang melatarbelakangi penangkapan tersebut. Namun rupanya Pranoto tak mau berburuk sangka.

“Dari catatan Pak Pran, beliau juga tidak tahu apakah karena masalah itu atau yang lain. Karena itu Pak Pran selalu berharap ada pengadilan sehingga bisa menjawab semua tuduhan. Tapi pengadilan tersebut tak pernah ada,” kata Imelda Bachtiar penulis buku tsb.

Bagaimana versi Jendral Nasution soal barter tersebut?(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Advertisement
Top Up Jackcard Kamu Dengan JakOne Mobile
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Tahun Pertama di Periode Kedua: Warna Berbeda Jokowi

Oleh DR Hinca IP Pandjaitan SH MH ACCS Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Demokrat Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat
pada hari Senin, 19 Okt 2020
Semua harus akui, bahwa tahun 2020 bukanlah tahun yang mudah. Pemerintah harus menghadapi pandemi Covid-19 dilain sisi juga berjibaku dengan ancaman resesi ekonomi. Diperlukan leadership yang jelas ...
Opini

Apa Yang Menarik di Hari Senin

Hari Senin menjadi hari yang menyebalkan bagi kaum hedonis, borjuis dan para pemalas lainnya. Itu terjadi sebelum ada aturan new normal. Hari Senin mengakhiri waktu bersenang- senang, Dugem. ...